
Wartasiger.co.id, Bandar Lampung — Kejuaraan Hapkido yang digelar di Provinsi Lampung tidak hanya menjadi ajang kompetisi antaratlet, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-22 yang akan berlangsung di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2028.
Founder Hapkido Indonesia, Grandmaster Yoyok Suryadi, mengatakan pelaksanaan kejuaraan di Lampung tersebut telah direncanakan sejak tahun sebelumnya dan menjadi salah satu agenda rutin Hapkido Indonesia.
“Setiap tahun kita mengadakan kejuaraan nasional untuk Hapkido, kegiatan kali ini menggabungkan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) IX yang diikuti antarpovinsi dengan kategori terbuka bagi peserta dari tingkat kabupaten/kota, khususnya kelompok kadet,” ujarnya.
Menurut Yoyok yang juga sebagai,Technical Delegate (TD) menyebutkan, konsep tersebut dilakukan agar jumlah peserta semakin banyak dan pertandingan menjadi lebih kompetitif. Antusiasme peserta yang terus meningkat bahkan membuka kemungkinan format pertandingan akan dipisahkan pada tahun berikutnya.
“Karena sekarang pesertanya sudah membludak, mungkin tahun depan sudah dibagi dua, open sendiri dan antarprovinsi sendiri,” katanya.
Lebih lanjut, Yoyok menyebut kejuaraan di Lampung menjadi salah satu tahapan penting menuju PON 2028. Babak kualifikasi PON dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Lampung juga disebut memiliki kepentingan strategis karena telah dipersiapkan sebagai tuan rumah PON 2032. Oleh karena itu, penyelenggaraan kejuaraan nasional dengan jumlah peserta besar dinilai dapat menjadi pengalaman bagi Lampung dalam mengelola event olahraga berskala nasional.
“Ini akan menjadi satu uji coba kekuatan SDM dan prasarana-prasarana. Nantinya kalau menjadi tuan rumah 2032, mereka sudah punya pengalaman yang cukup baik di tingkat nasional,” jelasnya.
Yoyok memperkirakan jumlah peserta dalam kejuaraan tersebut mencapai sekitar 600 orang. Jumlah itu dinilai memberikan pengalaman penyelenggaraan yang lebih besar dibandingkan kebutuhan penyelenggaraan PON yang jumlah pesertanya lebih terbatas pada cabang olahraga tertentu.

Sportivitas dan Mekanisme Protes Diperketat
Sementara itu, CSB Pertandingan Deni Lesmana menekankan bahwa peningkatan jumlah peserta bukan satu-satunya ukuran keberhasilan kejuaraan. Menurutnya, aspek sportivitas dan fairness juga harus dijaga selama pertandingan berlangsung.
“Wasit di sini tidak sebatas menentukan menang dan kalah. Wasit menentukan bagaimana menjaga norma-norma itu tetap ada,” kata Deni.
Untuk memastikan proses pertandingan berjalan sesuai aturan, Hapkido Indonesia membentuk Justice Board. Lembaga tersebut bertugas menangani protes yang diajukan peserta atau kontingen terhadap keputusan wasit.
Deni menjelaskan, pengajuan protes memiliki mekanisme dan batas waktu yang harus dipenuhi. Selain kelengkapan administrasi dan biaya yang ditetapkan, peserta juga wajib menyampaikan protes dalam batas waktu yang telah ditentukan.
Hal tersebut penting karena keputusan terhadap sebuah pertandingan dapat berdampak pada pertandingan berikutnya.
“Jangka waktu itu lebih penting. Karena ini akan berdampak pada setiap pertandingan berikutnya dan berdampak pada penambahan waktu ketika jam-jam pertandingan dilaksanakan,” ujarnya.
Dalam aturan yang diterapkan, peserta diberikan waktu 10 menit untuk mengajukan protes setelah keputusan pertandingan.
“Begitu ada protes, 10 menit harus selesai,” tegas Deni.
Dengan mekanisme tersebut, Hapkido Indonesia berharap proses pertandingan tetap berjalan tertib sekaligus menjaga nilai-nilai sportivitas dan keadilan bagi seluruh peserta.(dra)
![]()