
wartasiger.co.id, Bandar Lampung – Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Provinsi Lampung, Bani Ispriyanto, mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara daring bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Ruang Command Center Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Senin (6/10/2025).
Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir, meminta pemerintah daerah berinflasi tinggi pada September 2025, di atas rentang sasaran inflasi 1,5% hingga 3,5%, terutama tak memiliki hambatan distribusi, segera mengecek lapangan guna memastikan sediaan dan jangkauan harga bahan pokok bagi masyarakat.
Tomsi Tohir menekankan, penting langkah antisipatif berbasis data dalam mengendalikan inflasi daerah.
Ia meminta agar setiap daerah meganalisis tren harga selama tiga tahun terakhir guna memprediksi potensi harga naik komoditas tertentu pada bulan-bulan mendatang.
“Saya minta agar pelajari data tiga tahun ke belakang, lihat dan analisis,” kata Tomsi.
“Misalnya, jika bulan depan harga komoditas tertentu berpotensi naik, segera lakukan langkah antisipatif, komunikasi, dan koordinasi agar harga tak benar-benar naik. Ini baru bekerja dengan perencanaan, bukan sekadar pemadam kebakaran,” kata ia lagi.
Ia menegaskan, daerah penting menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) mengendalikan inflasi terukur dan berkelanjutan. Dengan demikian, upaya mengendalikan tak hanya bersifat reaktif, tapi preventif melalui rencana matang.
“Kemampuan menilai berdasarkan pengalaman kerja bidang masing-masing sangat penting memprediksi kondisi ke depan. Daerah harus memiliki SOP dan standar kerja baik agar dapat mencegah,” ujarnya.
Peringkat Empat
Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan, tingkat inflasi nasional pada September 2025 tercatat 2,65% (y-on-y) dan 0,21% (m-to-m).
Adapun inflasi Provinsi Lampung pada September 2025 sebesar 1,17% (y-on-y) atau peringkat keempat terendah dari seluruh provinsi se-Indonesia.
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau tercatat menyumbang inflasi bulanan terbesar, yakni 0,38% dengan andil terhadap inflasi 0,11%.
Komoditas utama penyumbang inflasi meliputi cabai merah, daging ayam ras, dan cabai hijau.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga naik harga cukup signifikan, terutama akibat meningkat harga emas perhiasan. (kmf)
![]()