
wartasiger.co.id, Lampung Selatan – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mendorong pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) Itera sebagai proyek percontohan transformasi transportasi publik di Lampung. Inisiatif ini menjadi langkah awal mewujudkan sistem transportasi massal modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menyampaikan hal itu dalam Focus Group Discussion (FGD) BRT Itera untuk Transportasi Lampung Maju di Ruang Rapat Gedung C Institut Teknologi Sumatera (Itera), Rabu (04/02/2026).
Marindo Kurniawan, mengatakan FGD ini merupakan ruang strategis merumuskan kebijakan berbasis bukti yang mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, dan para pemangku kepentingan dalam satu ekosistem pemikiran konstruktif.
Ia mengapresiasi Itera karena konsisten berperan sebagai mitra strategis pemerintah daerah.
“Itera tak hanya mengembangkan sumber daya manusia, tapi juga menyusun solusi kebijakan publik inovatif dan aplikatif,” kata Marindo.
Instrumen Kunci
Menurutnya, transportasi publik merupakan instrumen kunci dalam transformasi wilayah karena beririsan langsung produktivitas ekonomi, efisiensi logistik, mobilitas tenaga kerja, tata ruang perkotaan dan kawasan pendidikan, hingga pencapaian target pembangunan berkelanjutan serta pengendalian emisi.
Dalam konteks Lampung sebagai gerbang utama Pulau Sumatra, sistem transportasi andal dan terintegrasi sangat penting meningkatkan daya saing daerah.
“Tanpa intervensi kebijakan terstruktur, ketergantungan pada kendaraan pribadi berpotensi meningkatkan macet, biaya sosial, dan degradasi lingkungan,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, pengembangan angkutan massal perkotaan modern, terjangkau, dan ramah lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis.
Marindo menyampaikan, BRT Itera dapat berposisi sebagai proyek percontohan dalam implementasi sistem BRT di Lampung.
Nilai Strategis
Marindo menyoroti sejumlah nilai strategis, mulai dari konektivitas kawasan pendidikan, permukiman, dan pusat aktivitas ekonomi, efisiensi mobilitas mahasiswa dan masyarakat.
Lalu, kata ia, integrasi riset dan inovasi teknologi transportasi, hingga model kolaborasi lintas sektor yang dapat direplikasi di wilayah lain.
“Inisiatif BRT Itera ini tak hanya berbicara armada dan koridor, tapi juga mencakup rencana rute berbasis data, lembaga pengelola, skema pembiayaan berkelanjutan, serta penerimaan sosial masyarakat,” jelasnya.
Melalui FGD, Pemprov Lampung berharap memperoleh masukan teknis dan rekomendasi kebijakan terukur, mencakup kelayakan teknis dan ekonomi BRT Itera.
Selain itu, juga integrasi sistem transportasi yang sudah ada, skema pendanaan, berlanjut operasional, serta peran perguruan tinggi dalam riset, monitor, dan evaluasi kebijakan.
Uji Coba
Rencana awal operasional BRT Itera akan uji coba pada rute Mall Boemi Kedaton–Itera, dengan harapan mahasiswa, dosen, dan civitas akademika dapat memanfaatkannya.
Ke depan, rute ini akan berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat bila implementasi awal berjalan baik.
Rektor Itera, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, menyatakan Itera siap mengelola BRT yang diamanahkan negara melalui hibah pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.
“Insyaallah kami siap mengelola BRT ini sebagai sarana transportasi bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya.
Hasil FGD ini dapat menjadi rujukan awal menyusun kebijakan dan merencanakan transportasi publik di Lampung lebih luas, menuju sistem transportasi inklusif, efisien, dan ramah lingkungan. (kmf)
![]()