Surplus Ekspor Harus Menyejahterakan Rakyat, Heni Susilo Dorong Hilirisasi Industri dan Penguatan UMKM Lampung

Surplus Ekspor Harus Menyejahterakan Rakyat, Heni Susilo Dorong Hilirisasi Industri dan Penguatan UMKM Lampung

wartasiger.co.id, Bandar Lampung – Wakil Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Lampung sekaligus Anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung, Heni Susilo, mengapresiasi capaian surplus perdagangan luar negeri Provinsi Lampung yang kembali menunjukkan tren positif. Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator bahwa berbagai komoditas unggulan daerah masih memiliki daya saing yang kuat di pasar internasional.

“Surplus perdagangan luar negeri Lampung merupakan kabar yang menggembirakan. Kami mengapresiasi Pemerintah Provinsi Lampung beserta seluruh pihak yang telah bekerja keras mendorong peningkatan kinerja ekspor daerah. Ini menunjukkan bahwa produk-produk unggulan Lampung masih mampu bersaing di pasar global,” ujar Heni Susilo menanggapi pemberitaan mengenai surplus perdagangan luar negeri Lampung.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung masih mencatat surplus yang didorong oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti kopi, sawit, karet, singkong, udang, serta berbagai hasil pertanian dan perkebunan lainnya. Kondisi ini menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah di tengah dinamika ekonomi global.

Namun demikian, Heni mengingatkan bahwa capaian surplus perdagangan tidak boleh berhenti sebagai keberhasilan statistik semata.
“Surplus perdagangan ini jangan sampai hanya menjadi angka statistik saja, tetapi harus kita pastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat, pelaku usaha, petani, nelayan, koperasi, dan UMKM yang menjadi bagian dari rantai ekonomi daerah.”

Menurut Heni, tantangan utama ekonomi Lampung saat ini bukan hanya meningkatkan volume ekspor, melainkan bagaimana menciptakan nilai tambah (value added) melalui penguatan industri pengolahan di dalam daerah. Selama ini, sebagian besar komoditas unggulan Lampung masih diekspor dalam bentuk bahan baku sehingga nilai ekonomi yang dinikmati daerah belum optimal.

“Karena itu, upaya peningkatan nilai tambah harus menjadi prioritas melalui penguatan industri pengolahan. Komoditas unggulan Lampung jangan hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dalam bentuk produk jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, mampu membuka lapangan kerja baru, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”

Heni menegaskan, arah pembangunan ekonomi tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan yang mengamanatkan peningkatan daya saing produk nasional dan penguatan perdagangan yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Selain itu, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian menegaskan pentingnya pembangunan industri nasional berbasis hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat struktur ekonomi daerah.

Sebagai anggota Komisi III DPRD Provinsi Lampung yang membidangi keuangan, pendapatan, dan perekonomian daerah, Heni menilai Pemerintah Provinsi Lampung perlu memanfaatkan momentum surplus perdagangan untuk mempercepat transformasi ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Untuk itu, Heni merekomendasilkan bebera hal antara lain: pertama mempercepat pembangunan industri pengolahan berbasis komoditas unggulan Lampung seperti kopi, singkong, sawit, karet, kakao, dan hasil perikanan. Kedua, memperluas akses pembiayaan, pendampingan, dan sertifikasi bagi UMKM agar mampu masuk ke rantai pasok ekspor. Ketiga, memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan BUMD dalam pengembangan kawasan industri berbasis potensi local, Ke-empat, meningkatkan infrastruktur logistik, pelabuhan, dan distribusi guna menekan biaya ekspor serta meningkatkan daya saing produk Lampung; dan kelima, menyusun peta jalan hilirisasi daerah yang terintegrasi dengan RPJMD dan kebijakan pembangunan industri nasional.

“Keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari besarnya nilai ekspor, tetapi dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat. Ketika petani memperoleh harga yang lebih baik, UMKM naik kelas menjadi eksportir, industri pengolahan tumbuh, dan lapangan kerja bertambah, di situlah surplus perdagangan benar-benar menjadi kesejahteraan bagi rakyat Lampung,” tutup Heni Susilo.(rls)

Loading

Related posts